header-int

Menag Minta Bus Baru Antar Kota Perhajian Untuk Jemaah Haji Indonesia

Selasa, 04 Agu 2015, 10:27:10 WIB - 725 View
Share
Menag Minta Bus Baru Antar Kota Perhajian Untuk Jemaah Haji Indonesia

Jakarta (Sinhat)--Kesempatan bertemu dengan Menteri Haji Arab Saudi dimanfaatkan Menag untuk mengupayakan perbaikan layanan yang disediakan pihak Arab Saudi bagi jemaah haji Indonesia. Salah satu hal penting yang diupayakan Menag adalah meminta Menteri Haji Saudi agar jemaah haji Indonesia bisa mendapatkan bus yang baru untuk rute Madinah-Makkah dan sebaliknya. Permintaan ini disampaikan Menag sehubungan dengan Naqabah sebagai instansi yang mengatur 20 perusahaan bus biasanya mengundi penggunaan bus bagi setiap negara, dan mengingat masih ada beberapa perusahaan yang menggunakan bus tua.

Setelah menyelesaikan arbain di Madinah, jemaah haji Indonesia gelombang pertama akan bertolak ke Makkah dengan menggunakan bus antar kota yang disediakan oleh Naqabah (organda). Demikian juga dengan jemaah gelombang kedua yang telah menyelesaikan puncak haji di Makkah, mereka akan diantar dengan bus antar kota menuju Madinah untuk menjalankan arbain di Masjid Nabawi. Penyediaan bus antar kota ini diatur oleh Naqabah sebagai instansi yang mengatur 20 perusahaan bus. Caranya, biasanya dengan  mengundi penggunaan bus bagi setiap negara, dan sayangnya masih ada beberapa perusahaan yang menggunakan bus tua.

"Menteri Haji bersedia mengupayakan permintaan ini bisa terwujud,” kata Menag di Jeddah, Selasa (14/07).

Selain itu, Menag juga meminta agar jemaah haji Indonesia tidak lagi ditempatkan pada wilayah perluasan Mina pada saat prosesi Mabit di Mina. Hal ini disampaikan Menag mengingat jarak kawasan perluasan Mina yang terlalu jauh dari Jamarat. Akan hal ini, Menag juga mengaku bahwa Menteri Haji Arab Saudi mengatakan sulit untuk memenuhinya.

“Terhadap permintaan agar tak lagi ada jemaah kita yang ditempatkan di Perluasan Mina, karena jauhnya jarak ke jamarat, Menteri Haji sulit memenuhinya,” kata Menag.

Bandar Muhammad Hajar beralasan bahwa kapasitas Mina hanya 1.450.000 orang, sementara jemaah dunia mencapai lebih dari 2 juta. Penempatan di wilayah perluasan Mina, menurut Bandar, tak terelakkan dan dari Indonesia akan ada 6 maktab (sekitar 18.000 jamaah) yang akan ditempatkan di sana. "Karena tidak terhindarkan, Saya meminta agar Muassasah menyediakan bus untuk mengangkut jemaah ke dan dari jamarat. Permintaan tersebut benar-benar akan diperhatikan,” tutur Menag.

Dalam kesempatan pertemuan itu, lanjut Menag, dirinya juga berhasil meyakinkan Pemerintah Arab Saudi agar 50 persen jemaah haji Indonesia bisa mendarat di Jeddah, sedang 50 persen lainnya di Madinah. Menurut Menag, Pemerintah Saudi semula hanya bisa mentolerir pendaratan jemaah di Madinah maksimal 40 persen dari total jemaah Indonesia. Menag berhasil meyakinkan hingga 50 persen jemaah haji Indonesia bisa mendarat di sana.

“Dengan begitu nantinya separuh dari jemaah kita akan bisa langsung mendarat di Madinah, dan separuh lainnya di Jeddah. Demikian pula kepulangannya ke Tanah Air, masing-masing bisa langsung bertolak dari Madinah dan Jeddah,” ujar Menag.

Menag bertolak ke Arab Saudi pada Sabtu (11/07) lalu untuk melakukan sejumlah pertemuan dengan pihak-pihak yang terkait dengan persiapan penyelenggaraan ibadah haji 1436H/2015M di Jeddah, Makkah, dan Madinah, seperti dengan Muassasah Asia Tenggara dan termasuk dengan Menteri Haji Arab Saudi. Ikut mendampingi Menag, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Abdul Djamil, Irjen Kemenag M. Jasin, Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Sri Ilham Lubis, dan jajaran Staf Teknik Urusan Haji (TUH) Indonesia yang berkedudukan di Jeddah, Arab Saudi. (rilis/ar)

Kontak

Email: bkd@sulselprov.go.id
Telepon: (0411) 453-487
Fax: (0411) 453-487
Website: http://bkd.sulselprov.go.id
Alamat: Jl. Urip Sumiharjo No. 253 Makassar